Ramadhan Masa Kecil
Sejauh ingatan, saya belajar berpuasa satu hari penuh sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar, ketika itu kami tinggal di kota Palembang.Senang sekali mendengar teriakan teman-teman dari luar rumah memanggil-manggil untuk berangkat bersama tarawihan di mushola, kadangkala saya tidak mau ikut serta dengan berbagai alasan, kenyataannya saat itu saya tidak mau terlewat satu episode pun tayangan serial Oshin di televisi.
Acapkali pula di mushola saya bermain-main. Dari rumah, beberapa teman membawa gulungan kertas yang dipilin menjadi bola kecil, lebih kecil dari kelereng. Mushola di kampung kami itu berupa bangunan panggung yang terbuat dari kayu, lantainya pun berupa papan kayu yang satu dua bercelah diantaranya, aturan permainannya saya lupa, tapi intinya kami saling bergantian menjentikkan bola kertas untuk menjatuhkan bola kertas lawan ke lubang celah diantara lantai papan tersebut.
Setelah sahur pun adalah saat yang mengasyikkan. Setelah makan, saya dan teman-teman main sepeda di kompleks perumahan polisi yang beraspal bagus di seberang jalan kampung kami sampai langit terang. Tidak terhitung omelan mama karena kebandelan saya itu, sampai satu waktu saya pulang dari bersepeda dengan pintu rumah terkunci.
Tugas menyapu halaman pun sering saya abaikan, bagi saya halaman lebih
menyenangkan digunakan sebagai ajang maen engklek, loncat karet atau main boneka kertas bongkar pasang. Satu hari saya menyapu, dengan muka cemberut saya kumpulkan sampah dan daun-daun untuk dibakar di pojok halaman, teman-teman yang melihat meledek saya dari luar pagar, karena kesal saya lempar mereka dengan batu, sialnya mengenai kepala salah satu dari mereka! Lagi-lagi mama diuji kesabarannya, blio harus mengantarkan anak itu ke rumah sakit untuk menjahit kepalanya yang bocor.
Ketika guru mengaji datang, tiba-tiba saya merasa sakit mendadak, pernah juga ngumpet di kolong meja. Betapa kenakalan saya ini tidak sebanding dengan kenakalan anak-anak saya sekarang. Ada satu teman saya namanya Upik, gadis kecil yang cantik dengan anak2 rambut yang banyak tumbuh menghiasi pangkal dahinya, umurnya jauh dibawah saya (sekitar 5-6 tahun), saya perhatikan dia dari tahun ke tahun selalu mampu berpuasa sebulan penuh tanpa bolong-bolong, sholatnya juga rajin, saya mengetahuinya karena dia sering sekali main di rumah saya, kami sama-sama senang duduk berayun di dahan pohon melinjo besar di halaman rumah sambil menikmati semilir angin. Ketika saya tanya, dia ingin Tuhan menyayanginya dan mengabulkan keinginannya untuk mengembalikan ayahnya yang telah pergi bertahun-tahun tanpa kabar meninggalkan dia, ibu dan adik perempuannya.Ilustrasi : gettyimages


3 Comments:
jadi malu tapi terkenang banget...
sama loh mbak. Terawihan malah main, abis sahur, adaacara nyubuh, tapi bukan ngaji/dengerin ceramah, main sepeda juga. nunggu beduk, main juga, bukannya batuin emak di dapur gitu...:))
Indahnya masa kecil...:)
Terharuu baca ceritanya Upik...
Memang kita butuh motivasi yg kuat utk menjalankan sesuatu yaa...
Ken, ngaku deh, waktu kecil pasti doyan banget ngumpulin segala macem jajanan di siang hari untuk bekal saat tarawih di mesjid. Eh, itu ramadhan masa kecilnya siapa ya?
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home