Sunday, April 13, 2008

Inspiring Womans

Banyak wanita yang saya kagumi dimana pengalaman hidupnya saya jadikan contoh untuk belajar dan memberikan warna baru bagi cara pandang saya selama ini. Tiga diantaranya yang paling dekat adalah nenek saya, ibu saya dan Rohyani Sarwendah.

Mereka semua ibu rumah tangga biasa yang pekerjaannya tanpa jenjang karir, yang mungkin untuk sebagian orang perkerjaan ini kurang bonafid untuk ditekuni. Bukan berarti saya tidak mengagumi wanita karir, saya bener-bener salut dengan mereka yang walaupun bekerja membantu pemasukan keluarga, capek pulang kerja harus tetap bergelut dengan pekerjaan rumah yang tidak pernah ada habisnya itu lalu bercengkrama dengan anak-anak dan suami dengan wajah ceria meskipun sejuta masalah berseliweran di kepala.

Tuhan tau saya mencemburui kemampuan Yani, nenek dan ibu saya karena sebagai wanita mereka punya kesamaan, cerdas dalam berpikir dan bertindak, kuat sekaligus sabar dan kaya akan bakat.

Sebagai wanita-wanita pertama yang saya kenal, saya tau sekali kepahitan hidup, ketidakadilan, kepedihan khianat, kesulitan ekonomi, keruwetan masalah, kesakitan lahir batin yang nenek dan ibu saya pernah rasakan, namun dengan kesabaran dan kecerdasan, mereka mampu mengatasi semua dengan baik. Betapa pun peliknya belum pernah saya melihat beliau menangis atau mengeluh dan bercekcok keras dengan suami, mungkin pernah atau sering, tapi semua itu tidak dilakukan dihadapan saya.

Nenek saya Enong Hermien (difoto eyang putri dan saya usia 2 tahun) hubungan kami sangat erat karena saya pernah diasuh dan tinggal lama dengan beliau, hingga saat menghembuskan nafas terakhir diusia 89 tahun beliau ada didekat saya. Mengasuh banyak anak di masa perang dengan segala keterbatasan dan kekurangan hidup. Mengungsi lari dari gunung ke gunung dari kejaran penjajah. Kalau bukan lantaran bau busuk mungkin saya tidak akan pernah lahir ke dunia ini. Memang takdirnya beliau berumur panjang juga kali, bedil tentara Jepang yang hanya beberapa centimeter dari kepala beliau urung ditembakkan demi rasa jijik mencium bau menyengat yang berasal dari (maaf) pantat uwak Papo, kakak diatas ibu saya persis yang saat itu masih bayi yang berada dalam gendongannya, lalu beliau disuruh pergi jauh-jauh.

Ibu saya Heruswati, sentuhan tangannya membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Untuk soal masakan jangan ditanya hebatnya, tapi repotnya resep-resep beliau kebanyakan menggunakan ukuran perasaan, bukan takaran "Yaah banyaknya dikira-kira aja" atau "Sesukanya kita aja" begitu sarannya tiap kali saya masak bareng beliau. Sering kali dengan resep sama, hasil dari tangan saya kurang seenak buatan beliau, kalo diingat dulu saya sempet bete dan malas untuk mencoba dan mencoba lagi. Mungkin kalau tidak karena merantau atau kalau tidak mau kelaparan atau bokek kalau jajan terus sampai sekarang saya tetap malas ke dapur.

Ibu berjiwa seni tinggi hampir semua baju-baju yang saya pakai semasa kecil adalah jahitan tangannya sendiri, seperti gambar di puisi Ibu yang saya tulis dibawah. Beliau juga bisa mendesain rumah dan taman, melukis dan mampu membuat orang lebih cantik dengan tatanan rambut dan riasannya, hasilnya saya lihat sendiri dari banyaknya orang yang selalu datang lagi, lagi dan lagi bahkan sebelum matahari terbit ke salon yang dulu beliau pernah miliki.
Untuk mengisi waktu, beliau sempat kursus kecantikan selepas sekolah formal di sebuah akademi swasta di Bandung.

Keterampilannya membukit dan saya masih sangat lapar untuk belajar banyak, sayang untuk sementara ini saya belum bisa tinggal berdekatan lagi dengan beliau, moga Allah SWT masih memberi kesempatan satu hari nanti ya ma..

Pertama kali saya kenal Yani tahun 2001 saat itu kami bertetangga bersebelahan blok di daerah Simei, suami beliau satu kantor dengan saya dan suami di Jakarta dulu. Dasar jodoh tahun 2007 kami bertetangga lagi hingga sekarang di daerah Tampines. Wanita lulusan universitas negri di Bogor ini berwawasan luas dan knowledgeable, tanya soal apapun dia faham, mulai bumbu dapur, pola hidup sehat, bercocok tanam, science, politik, pengetahuan umum hingga bahasa Mandarin. Beliau juga seorang enviromentalist yang rajin mendaur ulang sampahnya.

Suami beliau seorang frequent flyer traveller, perintah kantor memaksanya untuk sering ditugaskan diluar negeri, dalam setahun mungkin hanya 5-6 bulan mereka bisa berkumpul bersama, walaupun sering ditinggal, ibu dari dua anak lelaki ini senantiasa memberikan yang terbaik untuk keluarga.

Anak-anak beliau selalu masuk kelas unggulan karena kepandaiannya, mereka juga piawai main piano, fasih berbahasa Mandarin dan karya seninya bagus, mungkin ini juga didukung karena selain sekolah primer mereka juga sekolah seni di NAFA (Nanyang Academy of Fine Arts)

Tahun 2005 dokter mendiagnosa Yani terkena kanker payudara, saya sempat shock, seorang Yani yang selalu menerapkan pola hidup sehat dalam makanan dan aktivitas sehari-hari bisa terkena kanker! Kemungkinan dalam hal ini faktor genetik berperan. Setahun sebelum dokter mendiagnosa penyakitnya, ayah beliau meninggal karena kanker tulang. Setelah melakukan biopsi, dokter menyarankan untuk mengangkat satu payudaranya karena kankernya telah masuk stadium 3C, setelah itu beliau menjalani kemoterapi dan radioterapi. Selesai terapi beliau secara rutin check up dan bone scan untuk memantau perkembangan hingga masa remisi kanker.

Sampai saat ini kondisi beliau alhamdulillah baik, pola makan sehat dan olahraga teratur selalu beliau terapkan, tidak jarang kita masak bersama, bersepeda bersama, exploring ke tempat-tempat unik untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas. Diam-diam saya menangis bila mendengar betapa sakit proses pengobatan yang harus beliau jalani, tapi dasarnya beliau wanita yang kuat, penuh dengan energi positif, anak-anak adalah sumber semangat hidupnya.

Saya pernah tergelitik memancing, mengapa wanita sepandai dia tidak tertarik untuk bekerja lagi, anak-anak kan sudah besar? Beliau berkata disini kan kita merantau, tidak ada handai taulan, tidak ada yang lebih baik dari kita sebagai orang tua untuk mengasuh dan mendidik keluarga dan justru karena mereka sudah besar, mereka membutuhkan intelegent guidance dimana keberadaan fisik dan dorongan psikis dari ibu sangat dibutuhkan, apalagi frekwensi bertemu dengan bapaknya juga kurang. Lagipula waktu kita nggak akan lama koq dengan anak-anak. Piuufh.. menjadi orang tua ternyata tugas dan tanggung jawabnya sangat berat.

Kalimatnya membekas terutama kata-kata terakhir, 'waktu kita tidak akan lama dengan anak-anak', bisa jadi benar, sebentar lagi mereka akan sibuk sendiri, punya acara sendiri, apalagi anak-anak saya perempuan semua, bila satu saat nanti mereka menikah dan dibawa jauh oleh suaminya tentu saya akan merasa kehilangan walaupun saya tau ini adalah episode kehidupan yang harus dijalani tiap-tiap makhluk. Aaah.. begitukah rasanya ibu, ketika dulu tiba-tiba saya memutuskan untuk menikah dan meninggalkanmu?
For all mums out there..
Happy Mother's Day 11 May 2008

4 Comments:

At Wednesday, April 16, 2008 12:36:00 PM , Blogger Ati said...

mengugah sekali ceritanya jeng. Salut buat mb yani atas kesabaran dan ketabahannya.

 
At Wednesday, April 16, 2008 1:09:00 PM , Blogger ambaradventure said...

mbak yani bisa tetap semangat ya. Luarbiasa

 
At Thursday, April 17, 2008 1:59:00 AM , Anonymous Anonymous said...

hkhkh...mengharukan bgt say...btw, cium sayang selalu dr jkt...tuk Kendy ku di spore...kaka hani ..adek ica....MU all..:*

 
At Wednesday, April 30, 2008 8:52:00 AM , Blogger Fitri3boys said...

wanita2 yang luar biasa......moga mba yani selalu sehat yach.....Mamanya mirip bgt dengan mba, pastilah banyak bakat dan pinternya juga kayak mamanya....

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home