Wednesday, January 28, 2009

Obrolan Tekawe


Lebih dari sepuluh tahun yang lalu saya anggap angin lalu saja keluhan ibu saya sepulang dari pasar karena harga sembako yang selalu merangkak naik. Saya nggak terlalu ambil pusing, dimanapun belinya, berapapun harganya, bagaimanapun repot mengolahnya karena sepulang sekolah, sepulang kantor semua tau ada, tinggal makan.

Bulan lalu pulang kerumah ditanah air, saya tinggal sebut saja makanan kesukaan yang saya mau, semua siap tersaji dimeja.

Sekarang saya kembali berjuang sendiri untuk urusan perut.. yaaaaah lagi-lagi soal perut dan ndilalahnya emak-emak itu hubungan antara perut dan dapur itu sangat mesra, khususnya buat saya yang berkarir penuh waktu dirumah.

Mendapatkan ikan air tawar, *ayam kampung 'beneran' (*walopun harganya lebih mahal dari harga ayam biasa tapi ini soal kepuasan :p) dan sayuran unik (baca: daun melinjo, kemangi, leunca: gak penting buat yang gak doyan ;p) disini nggak bisa didapat di sembarang pasar.

Pagi-pagi sehabis mengantar sulung saya ke sekolah, saya dan jeng Yan, sobat dekat skaligus tetangga saya disini langsung ngacir ke pasar Tekka. Pasar Tekka ini tengah direnovasi, pasar yang kami kunjungi ini adalah pasar sementara yang berada tidak jauh dari lokasi pasar yang tengah direnovasi.

Pergi ke pasar ini walopun jauh dari rumah bikin greget tersendiri, kurang lebih sama rasa gregetnya seperti pergi ke pasar Ueno sewaktu saya berkarir ditempat lain delapan tahun yang lalu. Ditempat-tempat ini saya bisa menemukan barang langka yang saya cari, yang saya kangeni..

Jalan kaki, naik turun bis, naik turun kereta, jalan kaki lagi dengan berkilo-kilo jinjingan ditangan, nggak kbayang kalo harus ditambah dengan menggendong si bungsu saya yang kian hari kian berat saja :)

Satu lagi obrolan pasar tradisional selain yang ini dan yang itu. Tempat yang untuk sebagian orang mungkin dihindari termasuk anak-anak saya karena harus berbecek-becek dengan aneka macam bau, panas tambah bonus ketek berkuah :p

Perjalanan untuk sepiring pecel lele dan ayam goreng kalasan.



0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home