Rumah Untuk Pulang
Berikut suguhan pemandangan yang akan didapat kalau berkunjung ke rumah susun sy disini, bisa dijuluki 'rumah lego' secara paduan warnanya hijau, kuning dan orange.Sebenarnya seseorang yang pertama kali menyebutnya demikian karena mengingatkannya dengan mainan balok anak2 warna-warni yang disusun keatas, tapi nggak semua Housing & Development Boards (HDB) flats cat exteriornya 'asyik' begini lho.....
Lebih dari 85% populasi Singaporean tinggal di HDB yang kurang lebihnya model begini, bagi yang agak berkantong tebal, yang menginginkan luxurios aesthetic home-living, swimming pool, tennis court, indoor squash, multi-functions hall atau sekedar malas untuk menanggapi door-to-door sales yang bisa datang kapan saja mengetok pintu bila tinggal di HDB memilih tinggal di condominium yang safety guard-nya mejeng 24-hours. Dan sisanya lagi tinggal di Landed Property seperti kebanyakan rumah kompleks di Jakarta dengan sqft yang bervariasi tentunya.
Di rusun tempat kami tinggal saliva spitting di common areas atau di elevator, pertengkaran suami istri, teriakan anak2, bantingan pintu dan perabotan, musik yang keras, bau asap adalah hal2 yang biasa. Saat malam tiba, khususnya di rusun tempat sy tinggal jika satu unit lampunya terang menyala tanpa korden jendela, berdirilah didepan jendela, kita seolah melihat akuarium yang bisa melihat aktivitas apa saja yang tetangga lakukan di kamar, ruang tamu ataupun di dapur, ini salah satu resiko tinggal di daerah cluster padat, dimana jarak antara block satu ke yang lainnya sekitar 10-15 kali melangkah
Betah tinggal di Singapore?..... memasuki tahun kelima disini, sy blom bisa menjawabnya dengan pasti, kalau untuk keamanan, kebersihan, ketertiban dan kenyamanan sarana umum, sy jawab "Ya" tapi sebenarnya buat sy pribadi lebih suka menjawabnya begini "Ya, untuk sementara ini sy bisa bertahan" Sampai kapan?.... sy sendiri gak bisa ngejawabnya, Bertahan untuk apa? jawabannya setiap orang akan sangat variatif....
Sy selalu ingin pulang.... pulang ke rumah sendiri.... pulang ke kampung sendiri.... tapi juga ada rasa kecewa terhadap tuan2 besar yang mengelola negri tercintah, terlebih membaca Kompas Jumat 11 Maret, dimana rakyat yang tengah kesulitan dengan bahan pokok sehari-hari dengan naiknya BBM, tuan2 besar lebih dulu dinaikkan gajinya dengan nominal yang fantastis, belum lagi berbagi macam tunjangan kemewahan diluar itu, tapi adakah yang bisa mereka perjuangkan demi rakyat?....
Btw, soal posting sebelumnya "Tetanggaku bunuh diri" peristiwa ini timbul karena internal problem, krisis rumah tangga ditambah sang ayah kecanduan gambling hingga ratusan ribu dollar, merasa bangkrut dan depresi, spekulasi beranggapan sang ayah membunuh anak2 dan istrinya, untuk kemudian membunuh dirinya sendiri.... sangat ironis.....


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home